KH. Bisri Syansuri

KH. Bisri Syansuri, Memimpin NU dengan Konsistensi Fiqih

Keterlibatannya dalam upaya dinamisasi NU terlihat jelas dari upayanya mendorong dan menopang berdirinya rumah-rumah yatim piatu di berbagai tempat.

Perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) hingga mampu menjadi organisasi massa terbesar di Tanah Air tentu tidak bisa dilepaskan dari faktor sejarah maupun sepak terjang tokoh-tokohnya dalam membesarkan organisasi ini. Terlebih adalah kiprah para pendiri awal yang tanpa mengenal lelah akhirnya berhasil meletakkan dasar-dasar pergerakan organisasi ke depan.

Di antara tokoh yang dianggap berjasa adalah KH Bisri Syansuri. Tercatat dia turut terlibat dalam pembentukan NU pada tahun 1926 dan sejak awal menjadi anggota pengurus, walaupun bukan jabatan paling penting.

KH Bisri dilahirkan di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah, tanggal 18 September 1886. Ayahnya bernama Syansuri sementara ibunya bernama Mariah. Dia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Keluarga ini amat kuat dalam menjalankan ibadah.Pendidikan awal diperolehnya di beberapa pesantren lokal. Saat itu, ketika menginjak usia tujuh tahun, Bisri mulai belajar agama, khususnya membaca Alquran di bawah bimbingan KH.Saleh. Kegiatan ini dijalani selama lebih kurang dua tahun.

Setelah itu, Bisri melanjutkan pendidikan di pesantren asuhan seorang ulama yang tercatat masih keluarga dekatnya, yakni KH Abdul Salam. Pesantren itu terletak di desa Kajen, sekitar delapan kilometer dari Tayu. Di sana, dia mempelajari dasar-dasar tata bahasa Arab, fikih dan tafsir Alquran serta hadis.

KH Abdul Salam menerapkan pola kehidupan beragama yang keras aturan-aturannya dan berjalur tunggal moralitasnya. Sifat berpegang pada aturan agama secara tuntas di kemudian hari akan menjadi salah satu ciri kepribadian Bisri.

Dia berpindah pesantren lagi pada usia 15 tahun. Kali ini yang dituju adalah pesantren di Demangan, Bangkalan, asuhan KH Kholil, seorang ulama besar yang menjadi guru dari hampir semua kyai yang terpandang di seluruh Jawa waktu itu. Nah saat nyantri di Demangan itulah Bisri bertemu dengan seorang santri dari Jombang yang kemudian menjadi teman karibnya yakni Abdul Wahab Hasbullah.

Iklan

Tentang nupapringjaya

ormas islam ahlussunnah wal jama'ah
Pos ini dipublikasikan di Tokoh NU. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s