Orang Tua Santri Cenderung Kasihan Jika Anaknya Tak Sekolah Formal

Malang, NU Online
Orang tua atau wali santri cenderung kasihan jika anaknya belajar di pondok pesantren yang tidak mempunyai sekolah formal. Ini yang menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah santri di beberapa pesantren salaf yang tidak membuka sekolah formal.

Kepala Kantor Kementerian Agama Mustain mengatakan, jumlah santri di pesantren salaf memang cenderung menurun. Orang tua santri berpikiran kalau anaknya sudah lulus dari pondok nanti, mereka tak akan bisa bekerja bekerja jika tidak memegang ijaah pendidikan formal.

Dari pengamatan kami di lapangan, orang tua santri cenderung kasihan jika anaknya dipondokkan di pesantren tradisional. Orang tua santri berpikiran kalau anaknya sudah lulus dari pondok nanti, mereka akan bekerja dimana. Padahal, tuntutan sekarang untuk mencari pekerjaan saja harus punya ijasah minimun SMA. Sehingga, kalau tidak disekolahkan secara formal, mereka takut anaknya menjadi pengangguran,” ungkap Mustain seperti dikutip beritajatim.com.

Menanggapi hal itu, Pengasuh Pesantren Al Rifa’ie Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang, KH Ahmad Muhlih Azzam mengatakan bahwa penurunan minat calon santri terhadap pesantren yang tidak punya sekolah formal memang sedang terjadi. Hanya saja, kalaupun masih ada pesantren salaf yang punya jumlah santri cukup banyak, karena disana diajarkan pula keterampilan lain yang sama dengan siswa di sekolah umum.

“Kalau dipondok kami ada sekolah formal SMP dan SMA. Bahkan, di Pesantren Al Rifa’ie tiap tahun jumlah santrinya melebihi kuota. Dari jumlah 850 calon santri, kuota yang kami targetkan malah melebihi dari jumlah itu. Mungkin, karena di sini ada lembaga sekolah formal,” ungkapnya.

Pengasuh Pesantren Modern Al Rifa’ie itu juga mengatakan, penurunan jumlah santri di pesantren tradisional saat ini sekitar 25 sampai 30 persen tiap tahunnya. Persoalannya karena mereka banyak tidak memiliki sekolah lembaga secara formal. Padahal, sekolah formal saat ini sangat penting bagi santri. Orang tua santri juga tidak mau memondokkan anaknya jika tidak adanya sekolah formal di pesantren tersebut.

Data Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang menunjukkan, saat ini ada 700 pondok pesantren. Dari jumlah itu,  hanya 25 persen pesantren yang memiliki sekolah lembaga formal seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), serta Madrasah Aliyah (MA). Selain sekolah berbasis ilmu agama tersebut, ada juga pesantren yang memiliki lembaga sekolah seperti SMP dan SMA.

Sementara 75 persen pesantren salaf tidak mempunyai lembaga sekolah formal, atau bertahan sebagai pesantren salaf. Pesantren-pesantren salaf yang tersebar di berbagai Desa dan Kecamatan di Kabupaten Malang itu hanya mengandalkan lembaga sekolah formal yang berada di lingkungan dekat pesantren tersebut.

Praktisi pendidikan Agus Sunyoto kepada NU Online di Malang mengatakan, pesantren-pesantren memang cenderung mengikuti tren lembaga pendidikan secara umum agar tetap diminati masyarakat. Salah satunya dengan mendirikan sekolah formal dan melengkapi berbagai fasilitas penunjangnya. (nam)

Tentang nupapringjaya

ormas islam ahlussunnah wal jama'ah
Pos ini dipublikasikan di Warta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s