Pemikir Islam Sekelas Gus Dur Belum Kembali Lahir

Studi atau kajian Islam setelah reformasi mengalami pergeseran serius yang sampai sekarang belum dipetakan. Walaupun banyak forum regular yang muncul yang mengkaji Islam di Indonesia tetapi belum memunculkan pemikiran keislaman. Ada satu gap antara kajian keislaman dan hasilnya, antara kajian dan realita publik.

Satu hal yang merosot belakangan ini adalah tidak adanya ikon pemikiran keislaman seperti Gus Dur atau Cak Nur (Nurcholis Masjid) atau Natsir. Natsir, meskipun agak ‘kanan’, tetapi banyak mempengaruhi aspek tertentu kehidupan umat Islam di kelompoknya.

Hal ini dikemukakan oleh Muhammad Al-Fayyadl, kader muda NU dalam Diskusi Kamisan bertema Nasib Studi Islam, yang berlangsung di kantor redaksi NU Online, (14/10). Selain Al-Fayyadl, KH Ma’ruf Amin dan Prof Dr Muhammad Machasin juga hadir sebagai pembicara, dan Hamzah Sahal sebagai moderator.

Al-Fayyad yang lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berpendapat pemikiran keislaman adalah kolektifitas ide Islam yang dilontarkan secara independen, bebas, kehadapan publik yang lebih luas dan memunculkan dinamika yang hidup.

“Sekarang ada paradoks bahwa kita melakukan studi Islam dimana-mana tetapi belum ada tautan yang membuat studi ini jadi satu gerbong pemikiran keislaman,” katanya.

Islam di Indonesia sekarang menurutnya tak memikirkan gagasan besar, tetapi hanya berurusan dengan hal yang sangat teknis sehari-hari. Ia sepakat dengan pemikiran intelektual Islam dari Perancis, Arkoun yang melihat Islam sebagai sebuah pemikiran, yang dipelajari dalam kajian dan Islam yang ada dalam realitas masyarakat.

Mundurnya kajian keislaman ini menurutnya disebabkan oleh banyak hal, diantaranya tak ada lagi karakter yang mampu melakukan terobosan dan memdialogkan ide dan praktek.

“Islam hanya menjadi wacana, dan seringkali tak konsisten dengan apa yang ia wacanakan dan tidak mengalami kontinyuitas,” katanya.

Sejumlah wacana Islam yang lahir di kampus tak menimbulkan reaksi dan dinamika hidup yang lebih luas, tetapi hanya menjadi konsumsi terbatas dari publik yang terbatas. “Kajian Islam cenderung impersonal, hanya masuk dalam struktur kekuasaan atau lembaga yang membawahi kajian Islam itu sendiri, misalkan perguruan tinggi atau departemen agama,” tandasnya.

Pada akhirnya kajian Islam menjadi anonim, banyak produk yang dihasilkan tetapi bagaimana ide itu berlanjut, tidak ada. Kebanyakan orang berhenti ketika menulis sebuah karya, ia berhenti melakukan sebuah studi aspek dari Islam dan tidak merangkainya menjadi sintesa besar.

“Satu hal yang dilakukan Gus Dur atau Cak Nur, yang berevolusi dari hal yang sederhana. Gus Dur memulai dari problem budaya, dan berbicara tentang Islam dan negera, Islam dan civil society. Sekarang kita belum banyak menemukan karakter dari kajian Islam sehingga begitu mudahnya pemikiran yang muncul menjadi terputus.” imbuhnya.

Kajian Islam saat ini terdapat kecenderungan dimana satu wacana baru yang dimunculkan kontinyuitas idenya sering kali tidak dilakukan sehingga ada keterputusan gagasan. Ia mencontohkan sekitar 10 tahun yang lalu muncul ide liberalisasi Islam, tetapi akhirnya terputus begitu saja ketika liberalisme sendiri tidak menunjukkan konsistensi, dan seringkali tidak jelas pergerakannya.

“Kelompok yang membawakannya, mengalami keterputusan dengan munculnya desakan kembali ke tradisi, jadi sekarang misalnya trend kita Islam Nusantara, bagaimana Islam menghargai nilai lokal untuk diaktualisasikan kembali, tatapi belum yakin apa ini sekedar trend atau menjadi tawaran pemikiran yang berlanjut sampai 20 tahun ke depan,” terangnya.

Reformasi melahirkan banyak air bah ide yang mmbuat satu muncul dan satunya hilang sehingga kehilangan pegangan dan arah bagaimana menentukan kajian Islam ke depan berdasarkan satu proyeksi yang lebih stabil. “Kajian Islam di negeri ini terlalu banyak dilanda gempa,” kritik Al-Fayyadl yang tanggal 14 Oktober lalu genap berusia 25 tahun.

Iklan

Tentang nupapringjaya

ormas islam ahlussunnah wal jama'ah
Pos ini dipublikasikan di Warta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s